Islam Nusantara

Written by on September 26, 2018

Oleh Tasrief Siara

INI catatan dua tahun lalu ketika menjadi bagian dari calon jamaah haji Indonesia,  yang saat itu  bersiap untuk wukuf di Arafah. Setelah sebulan lebih berinteraksi  dengan penduduk dari seluruh bangsa dunia, tiba-tiba saya jadi teringat dengan wacana Islam Nusantara yang sempat hangat dibincangkan di tanah air beberapa waktu silam.

Dalam wacana yang berkembang, Islam Nusantara dipahami sebagai Islam yang berwajah moderat, toleran, inklusif. Mengedepankan kerukunan dengan semangat perdamaian. Islam Nusanatara juga mengakomodir budaya dan tradisi lokal, dan  mampu beradapsi dengan lingkungan yang berbeda.

Dalam pandangan Said Akil Siroj Ketua Umum PB. NU  pada Muktamar NU ke 33 lalu mengatakan, Islam Nusantara tidak memberangus budaya dan memusuhi tradisi, kecuali tradisi yang bertentangan dengan syariat.

Indonesia, dengan kekayaan keberagaman budayanya, yang bersumber dari etnisitas yang berbeda, adalah modal sosial yang juga mencirikan wajah Islam Nusantara.

Wajah ini terlihat, ketika ribuan calon jamaah haji Indonesia berbaur dengan ragam bangsa yang berjumlah sekira 3,4 juta umat Islam dunia yang tengah berada di Kota Makkah untuk  menuaikan ibadah haji, wajah yang ramah, toleran, inklusif tetap menjadi ciri yang menonjol diantara jutaan calon jamaah haji dunia dengan karakter dan perilaku yang sangat bedah dengan kultur kita sebagai anak bangsa.

Untuk shalat lima waktu di dalam Masjidil Haram Makkah, setidaknya dibutuhkan waktu dua sampai tiga  jam sebelum azan berkumandang, jamaah sudah harus berada di dalam masjid, bahkan shalat jumat tiga sampai empat jam. Kurang dari waktu itu pelataran masjid atau bahkan jalan raya  yang didapat.

Jamaah dari negera lain, tanpa beban melangkahi jamaah karena sedang mencari posisi shaf yang kosong, bahkan mereka tanpa sungkan melangkahi orang yang sedang shalat sunah atau shalat wajib. Fenomena seperti ini seperti menjadi hal yang biasa di Masjidil Haram, bahkan petugas keamanan di Masjdil Haram terkadang meminta jamaah berhenti shalat sunnah ketika sebuat alat berat akan dipindahkan didalam Masjidil Haram yang  sedang direnovasi itu.

Itulah wajah Islam nusantara jika diturunkan dalam tingkatan praksis. Seorang jamaah dari Brunei saat kami berbincang tentang perilaku intoleran jamaah dari belahan dunia lain saat menanti waktu azan tiba, bilang pada saya, jamaah asal ASEAN umumnya sangat sopan.

Saya juga sempat berbincang untuk waktu yang beda dengan jamaah asal Afganistan, saat menanti waktu shalat magrib dan jamaah asal Iran saat menanti shalat subuh di pelataran Kabah, mereka secara terbuka menyampaikan kekagumannya terhadap calon jamaah haji Indonesia, yang sopan dan sangat hormat terhadap jamaah lain.

Bahkan petugas kebersihan Masjidil Haram sangat senang dengan jamaah Indonesia. Mereka sering bilang: Indonesia bagus.

Dalam pikiran saya yang sangat sederhana berpikir, itulah wajah Islam Nusantara yang tengah “didemonstrasikan” jamaah haji Indonesia yang toleran, sopan, terbuka dengan jamaah dari negara lain.  Bangga rasanya bisa melihat secara langsung fenomena ini.

Tapi yang saya heran – dan ini membutuhkan kajian para sosiolog – mengapa ketika kita bertemu dengan sesama jamaah asal Indonesia, sikap toleran itu terkadang tenggelam ditelan oleh sikap egoisme masing-masing.

Seperti rebutan naik bus jemputan, atau rebutan masuk pintu lift hotel. Heran awak menyaksikan itu. Selamat berpuasa untuk anda yang sedang menjani shaum ramadhan 1438 hijriah.

Penulis merupakan praktisi komunikasi massa


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Continue reading

Radio Nebula Streaming

Radio Nebula FM

Current track
TITLE
ARTIST